KesehatanSekitar Kita

Mencengangkan Kerjasama Antara Dokter dan Perusahaan Obat

Mencengangkan Kerjasama Antara Dokter dan Perusahaan Obat | Dulu awal-awal masa masih tinggal berdampingan dengan tempat praktek dokter spesialis, saya tidak menaruh perhatian terlalu serius terhadap beberapa orang yang berpakaian rapi membawa tas tenteng menunggu didepan praktek sang dokter.

Saya mengira mereka adalah mahasiswa-mahasiswa kedokteran yang sedang konsultasi atau ingin bimbingan skripsi. Lama kelamaan karena hal tersebut juga ternyata saya temui dibeberapa praktek dokter lain saya jadi penasaran.

Tanya sana-sini, ternyata sebagian mereka adalah orang yang berprofesi sebagai “semacam sales” yang menawarkan obat-obat tertentu kepada dokter. Mungkin anda sudah tau hal ini. Biasanya mereka disebut dengan Medrep ‘Medical Representative’

Dari situ saya mulai sedikit paham akan setiap resep yang diberikan setiap kali berobat. Makanya, setiap berkunjung kedokter untuk bawa istri, anak saya tidak akan sembarang menebus resep obat yang diberikan oleh dokter. (Baca: Cara Cerdas Berobat Kepada Dokter).

Bentuk kerja sama ini sendiri sudah bukan rahasia lagi pada sebagian orang yang sudah mengetahuinya. Saya sendiri sedikit tercengang kemudian setelah membaca sebuah berita disebuah media nasional. Judulnya: Pengakuan Mantan Medrep: Banyak Apoteker Tertawa Melihat Resep si Dokter. Mengapa para Medrep tertawa? karena sebagian resep yang mereka terima terasa tidak masuk akal dengan penyakit yang di derita oleh pasien. Sakitnya “A” tapi diberikan resep “B” harusnya dengan penyakit “A” cukup diberikan resep “C” karena bisa jadi lebih murah tapi khasiat sama atau lebih ringan efeknya.

Baca Juga:  INILAH Pandangan Orang Malaysia Terhadap Indonesia

Berikut cuplikan dari berita tersebut;

Ketika dokter sudah berada di genggaman perusahaan farmasi, yang terjadi adalah kekonyolan. Pasien akan menerima resep “tak masuk akal”. Namun, pasien tak berdaya karena ketidaktahuannya. Kerja sama atau KS antara perusahaan obat dan dokter itu seperti ijon. Dokter menerima uang atau hadiah di depan yang harus dikembalikan hingga empat kali lipatnya. Pengembalian dilakukan lewat kewenangan dokter dalam menulis resep.

Apabila seorang dokter telah diberi uang Rp 200 juta oleh sebuah perusahaan farmasi, maka ia harus meresepkan obat dari perusahaan farmasi itu senilai Rp 800 juta.

Jangka waktunya tidak terbatas, bisa dua bulan, tiga bulan, enam bulan, ataupun setahun. Saat seorang dokter menjalin kerja sama dengan perusahaan farmasi yang diwakili oleh medical representative atau medrep, dokter itu akan diawasi. Medrep mengunci apotik-apotik rujukan sang dokter sehingga perusahaan obat bisa memantau progres kerja sama.

Si dokter kemudian menerima uang Rp 20 juta untuk biaya berlibur ke Bali bersama keluarganya. Sepulang dari Bali, si dokter jadi rajin meresepkan antibiotik cair kepada pasiennya yang mayoritas adalah orang dewasa.

Baca Juga:  Ini Dia Blog Gaul Tempat Curhat Anak Bungsu Presiden Jokowi

Dia ditarget meresepkan antibiotik itu senilai Rp 100 juta. “Akhirnya, untuk pasien dewasa pun dia kasih resep antibiotik cair. Kan jadi konyol, pasien dewasa dikasih antibiotik cair,” ujar mantan medrep itu ketika ditemui di sebuah gerai fastfood di Alam Sutera, Tangerang Selatan, Banten.

“Mestinya pasien dewasa diberi antibiotik tablet. Cuma gara-gara terima uang akhirnya muncul resep tak masuk akal,” tambahnya. Dalam enam bulan dokter itu sudah melunasi “kewajibannya” ke perusahaan farmasi. Tapi banyak apoteker tertawa melihat resep si dokter. “Antibiotik cair kan untuk anak-anak,” katanya.

Seorang medrep berkepala plontos mengaku, suatu ketika, anaknya demam dan ia pun membawanya ke sebuah klinik di Jakarta Selatan. Dokter kemudian memberi resep antibiotik golongan dua. Lantaran paham, medrep tersebut menolak resep dokter. “Saya minta amoxicilin saja. Amoxicilin kan termasuk antibiotik golongan rendah. Saya tahu kalau demam biasa, pakai amoxicilin saja cukup,” ungkapnya.

“Tak perlu golongan dua yang seperti yang sempat diresepkan dokter. Kasihan anak saya, nanti jadi resisten. Lagipula antibiotik golongan dua itu jauh lebih mahal,” katanya lagi. Pria berkepala plontos itu pun buka kartu bahwa dia berprofesi sebagai medrep. “Dokter itu kemudian mengganti resepnya,” katanya.

Baca Juga:  Kejadian Paling Menakutkan Saya dan Istri

Dalam pembicaraan singkat tersebut, si dokter mengaku punya kerja sama dengan sebuah perusahaan obat yang memproduksi antibiotik golongan dua.  Pilihan amoxicilin untuk mengatasi demam si anak tidak keliru. “Ternyata benar, dalam dua hari, anak saya sembuh,” imbuh medrep tersebut.
Mengaku sebagai “orang farmasi” memang jadi password bagi para medrep untuk tidak menjadi korban resep tidak masuk akal.

Kejadian seperti ini dianggap sebuah kewajaran di Indonesia, lalu apa yang harus kita lakukan? Jadilah pasien yang cerdas, tidak mudah dimanfaatkan oleh dokter. Dan kepada para dokter berbuatlah yang terbaik untuk pasien, jangan hanya karena kerja sama kontrak harus melakukan hal-hal yang tak wajar demi mengejar target. Baca juga; Ngintip Gaji Dokter, Berapa Sih Gaji Dokter??

Pendapat atau Pertanyaan Anda?

comments

Tags

Musthafa Kamal

Seorang manusia fakir ilmu yang selalu berusaha belajar dan menjadi lebih baik agar bisa berbuat sebanyak-banyaknya untuk orang banyak. Menyukai dunia Desain Grafis, Blogging, Traveling, Online Marketing, Diet, Bisnis dan Ekonomi Islam

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker