Sekitar Kita

Preman Pensiun, Potret Miris Bangsa Indonesia Yang Selalu Optimis

Sore tadi karena lelah pulang dari suatu tempat, tak sengaja duduk depan tv ngilangin capek sambil makan buah Langsat dan nonton sinetron yang kebetulan judulnya Preman Pensiun edisi Sang juara.

Bagi saya, sinetron yang awal kemunculnya diperankan oleh alm. Dedi Petet sebagai aktor utama dengan nama Kang Bahar ini termasuk layak ditonton karena beberapa adegannya memang terlihat kocak menghibur dengan bahasa khas sunda yang di indonesia kan, terlihat natural dalam peran dan ada pelajaran yang bisa diambil.

Pemeran-pemeran yang ada dalam sinetron ini pun kebanyakannya dari orang yang terasa asing karena memang bukan aktor kenamaan sebelumnya.

Jujur, saya sendiri hanya terkadang saja nonton sinetron ini, kebetulan kali ini edisi Sang Juara. Pada episode ini menampilkan pemeran utama pengganti Dedi Petet yang biasa dipanggil Kang Mus tidak  lagi berprofesi sebagai preman baik hati. Ia menyatakan dirinya pensiun dan ingin mencari pekerjaan yang lebih baik dan halal.

Hidupnya kian terasa berat dan susah, tidak seperti biasanya yang tinggal menunggu setoran dari para pedagang pasar yang ia lindungi. Ia mulai membuka usaha rumahan bersama sang istri. Pembantu yang biasa kerja dirumahnya pun ingin dipensiunkan karena sudah tak sanggup lagi bayar.

Sang pembantu meresa sangat sedih dan ketakutan tidak bisa lagi menafkahi diri dan anaknya. “Saya dan anak mau makan apa kalau tidak bantu-bantu dissini?’ Ungkap pembantu sedih. Sang majikan pun bingung harus bersikap dan mengambil keputusan seperti apa.

Kang Mus tak sendiri, ia mengajak beberapa anak buahnya untuk ikut taubat dan pensiun dari preman. Adalah Qamar yang notabenenya merupakan salah satu anak buah Kang Mus pun akhirnya memutuskan pensiun jadi pemalak dan berusaha mengejar cita-citanya menjadi pentinju. Sayang, konsentrasinya terganggu karena orang tua wanita yang ia sayangi tidak akan merestui dirinya yang tak punya penghasilan jelas. Ia pun bingung dan memperkuat tekatnya untuk menjadi petinju.

Dalam tayangan lain digambarkan tentang sepak bola yang kompetisinya mulai jarang diadakan. Seorang pelatih sepak bola berkata bahwa kompetisi dalam sepakbola adalah jantung dari olahraga terbesar ini. Karena dengan kompetisi banyak orang dapat rezeki. Saat kompetisi ditiadakan, nasib offisial, pelatih, pemain, penonton bahkan sampai penjual kaos terancam tak pasti. Kompetisi dalam sepakbola sangat penting bagi keberlangsungan hidup orang yang menggantungkan nasibnya pada si kulit bundar.

Jika tidak, seorang pelatih hanya sekadar menyalurkan hobi tanpa penghasilan. Anak-anak hanya bermain tanpa inspirasi dari para seniornya.

Di satu sisi ada sekawanan pencopet yang mengaku mengundurkan diri dari dunia percopetan tapi tak kunjung juga mendapatkan pekerjaan yang pasti. Sudah melamar kesana kemari tak kunjung diterima. Ingin mulai bisnis tak punya modal dan kemampuan.

Meski salah seorang dari mereka akhirnya memilih jadi penjual cilok. Dan satu orang lain tetap meramaikan dunia copet setelah frustasi beberapa hari karena banyak temannya yang taubat.

Ia memilih tetap jadi ahli copet karena susah mencari pekerjaan lain. Baginya mencopet adalah profesi menyenangkan asal tidak ketahuan, iapun akhirnya mendeklarasikan diri sebagai dosen dan bos dari para pencopet yang ia rekrut dan bina.

Dari gambaran diatas seolah ingin menyinggung kondisi bangsa Indonesia saat ini yang semakin tak menentu. Nyari pekerjaan sangat sulit, yang sudah bekerja malah kena PHK. Ingin memulai usaha tak tau cara dan tak punya modal sampai tak punya skill.

Tapi, semangat dalam mencari penghidupan yang lebih baik selalu ada bagi mereka yang selalu optimis menghadapi masa depannya. Terus berusaha sampai bisa adalah slogan terbaik menghadapi bangsa yang tengah meringis ditekan krisis.

Dengan bermodal semangat optimis dan usaha menuju kehidupan yang lebih baik inilah akhirnya Kang Mus berhasil merintis usaha jualan kripiknya. Qamar menjadi juara tinju sesuai cita-citanya. Pembantu yang tadinya ingin dirumahkan akhirnya kembali bekerja dirumah Kang Mus membantu pembuatan bisnis kripik.

Para pencopet yang taubat perlahan mulai menemukan pekerjaan yang lebih lain. Sayangnya, orang-orang yang pesimis seperti yang dosen dan bos para pencopet beserta jajarannya terus melakukan hal  yang jauh dari norma agama dan masyarakat. So, tetap optimis meski bangsa sedang miris.

Pendapat atau Pertanyaan Anda?

comments

Tags

Musthafa.Net

Seorang manusia fakir ilmu yang selalu berusaha belajar dan menjadi lebih baik agar bisa berbuat sebanyak-banyaknya untuk orang banyak. Menyukai dunia Desain Grafis, Blogging, Traveling, Online Marketing, Diet, Bisnis dan Ekonomi Islam

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker