Sekitar Kita

Siapa Ganggu Aceh? Mau DOM Lagi?

Peristiwa pembunuhan dua personil TNI di Aceh Utara dan seorang personil polisi di daerah Pidie membuat Aceh kembali menggema ke seantero Indonesia dengan image “Aceh Rawan”, “Aceh Tidak Aman”. Padahal menurut berita yang beredar menyatakan bahwa antara peristiwa TNI dan Polri tidak ada sangkut pawutnya. Hanya terjadi berbarengan.

Seperti diberitakan bahwa sebelum ditembak orang tak dikenal atau komplotan bersenjata, dua personil TNI di culik dan ditemukan tak bernyawa keesokan harinya dengan tangan terikat kebelakang dan tanpa busana. Sementara personil polisi yang meninggal dunia terjadi saat anggota polisi sedang melakukan penyergapan terhadap pelaku penyelundupan narkoba. Jadi sangat jelas berbeda.

Tiga puluh tahun dalam masa konflik sudah cukup bagi masyarakat Aceh yang hidup dalam janji-janji pemimpin yang tak pasti. Yang diinginkan seluruh rakyat Aceh saat ini adalah hidup damai dengan terpenuhinya segala kebutuhan hidup.

Saya yakin, seluruh masyarakat Aceh mengutuk keras apa yang telah terjadi dan pasti akan membantu aparat berwajib untuk mengungkap kasus ini. Lantas apa sebenarnya yang terjadi di Aceh?

Saya sebagai salah satu rakyat Aceh merasa tidak nyaman mana kala ada beberapa orang yang justru makin memperkeruh keadaan. Lihat saja komentar seorang penjabat negara yang memimpin kementerian pertahanan,

“Itu kalau berulang-ulang kan nanti ada DOM lagi. Nggak boleh terjadi,” ujar Ryamizard, Menteri Pertahanan.

Ini kah omongan tingkat seorang menteri??? Apa seperti ini kualitas semua menteri Presiden Jokowi?

Pangdam Iskandar Muda Mayjen TNI Agus Kriswanto saat mengunjungi keluarga korban penembakan sudah menyatakan bahwa apa yang terjadi adalah kriminal murni meski belum diketahui apa motif sebenarnya.

Mengungkit-ungkit DOM hanya makin memperkeruh suasana. Jika pak menteri berani mengancam orang Aceh, maka Rakyat Aceh pun tak akan pernah segan untuk meminta kembali Referendum.

Sejarah penciptaan DOM dimasa pemerintahan Soeharto dan Megawati tidak pernah menyelesaikan masalah, justru yang terjadi adalah pemberontakan semakin besar di penjuru Aceh. Hal ini diakibatkan rasa balas dendam rakyat Aceh yang melihat keluarganya disiksa dan dibunuh di depan matanya. Maka bermunculanlah pemberontak-pemberontak baru yang memberontak karena niat balas dendam.

Harusnya, sebagai seorang Menteri Pertahanan memberikan kepastian keamanan kepada seluruh rakyat Indonesia, bukan membuat atau mengeluarkan kata-kata yang tak pantas.

Harapan kami sebagai rakyat Aceh, selesaikan apa yang terjadi dengan kepala dingin, kejar terus pelaku pembunuhan tanpa harus mengganggu aktivitas masyarakat di daerah tersebut dan mengungkap apa sebenarnya motif dari pelaku. Kemudian, jadilah pemimpin yang pantas disebut pemimpin, bukan pemimpin yang menjalankan tugas hanya gara-gara kontrak politik sehingga omongan yang keluar adalah omongan yang berlandas nafsu belaka.

Pendapat atau Pertanyaan Anda?

comments

Tags

Musthafa.Net

Seorang manusia fakir ilmu yang selalu berusaha belajar dan menjadi lebih baik agar bisa berbuat sebanyak-banyaknya untuk orang banyak. Menyukai dunia Desain Grafis, Blogging, Traveling, Online Marketing, Diet, Bisnis dan Ekonomi Islam

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker