Review IM

Wooow…Biaya Menikah Rakyat Miskin Minimal 100 Juta

Biaya Menikah Rakyat Miskin | Hari senin kemarin saya ada keperluan ke kampus Pasca Sarjana Uhamka Jakarta, iseng-iseng saya menghampiri rak koran dan mengambil salah satunya yaitu koran Kompas, headline salah satu berita didalamnya “Kala Musim Perkawinan Menguras Kantong Warga”

Saya yakin jemaah akan terkejut dari isi berita tersebut, kesimpulannnya begini: salah satu warga mengeluh karena isi kantongnya seperti terkuras setelah diundang hadir pada beberapa pesta perkawinan dalam sepekan. Karena dalam 2 pekan saja uangnya sebesar 400 Dollar AS (Rp. 5,2 juta) separuh gaji bulanannya ludes untuk sumbangan perkawinan di sana sini. Ada lagi beberapa warga yang tidak mau menghadiri pesta perkawinan dengan alasan ga punya uang yang cukup, mungkin dari pada malu kan. Hehehe.

Menurut statistik lebih dari 25.000 perkawinan digelar dalam setahun dan rakyat miskinnya saja bisa menghabiskan uang pesta sekitar 10.000 Dollar AS (Rp. 131,3 juta), kejadian bukan di amerika atau eropa melainkan ini di Palestina… ya di Palestina, coba anda bayangkan!. Kita tentunya tidak pernah terbayang hal ini sebelumnya, (tentunya bagi yang belum pernah tinggal dipalestina seperti saya, ).

Padahal di indonesia saja orang miskin/tidak cukup dana/lagi punya hutang mungkin kalau nikah ya hanya bisa ke KUA saja tanpa pesta sedikitpun. Jadi siapa yang lebih susah dan miskin sebenarnya?

Nah sebenarnya bagaimana tinjauan Islam dalam pesta Pernikahan?

====================

*Walimah al-‘Urs (Pesta Pernikahan)*

*Definisinya*
Walimah al-‘urs adalah istilah untuk makanan yang khusus dihidangkan untuk acara pernikahan.

*Hukumnya*
Walimah al-‘urs suatu sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang mustahab muakkad[2] untuk dilaksanakan oleh pengantin laki-laki dengan apa yang mudah baginya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menyelenggarakan walimah saat menikahi istri-istrinya, dan menganjurkan para sahabatnya untuk melaksanakan walimah.

Dari Anas radhiallahu ‘anhu, dia berkata, “Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pun menjadi pengantin dengannya (yaitu Zainab binti Jahsy). Beliau kemudian mengundang para sahabatnya, maka mereka pun menikmati makanan yang dihidangkan lalu pulang.”[3]
Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Abdurrahman bin ‘Auf radhiallahu ‘anhu ketika dia menikah,

* أَوْلِمْ وَلَوْ بِشَاهٍ*
“Selenggarakanlah walimah walau hanya dengan seekor kambing.”[4]

Dalam melaksanakan walimah, tidak disyaratkan harus dengan seekor kambing atau selainnya, tetapi dengan apa yang mudah bagi pengantin laki-laki. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri pernah berwalimah dengan hais saat menikahi Shafiyah radhiallahu ‘anha.[5]

Hais adalah buah kurma yang dibuang bijinya lalu di campur dengan adonan keju atau tepung (sumber: ensiklopedi fiqih, hal. 1553-1554. Ensiklopedi Fiqh)

Jadi, syukuran nikah dengan kue-kue atau makanan ringanpun sebenarnya boleh dan tidak masalah, namun terkadang sebagian kaum muslimin kan gengsi, wah ga enak kita kan banyak kenalan orang kaya masa’ mau diundang pakai tenda biasa, masakan biasa tanpa gedung ini dan itu, sehingga terjadilah hutang belasan hingga puluhan juta demi sebuah prestise.

Walhasil , setelah menghitung amplop pesta jauh dari yang diharapkan, karena ada yang mengharamkan budgetnya bisa kembali atau untung. Subhanallah.

Pilih mana, realistis tanpa ada beban atau demi prestise akhirnya menangis?!

Jika tulisan ini bermanfaat silahkan di SHARE yaaa….

Ditulis oleh: Muhamad Taufiq,Lc,, Founder Ensiklopedi Fiqh

Pendapat atau Pertanyaan Anda?

comments

Musthafa.Net

Seorang manusia fakir ilmu yang selalu berusaha belajar dan menjadi lebih baik agar bisa berbuat sebanyak-banyaknya untuk orang banyak. Menyukai dunia Desain Grafis, Blogging, Traveling, Online Marketing, Diet, Bisnis dan Ekonomi Islam

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker